Wednesday, July 26, 2006

Three-some reunion once again?

Waiting excitedly for the threesome reunion once again!

Always unexpectedly, almost every year since 2004, the three of us always gather for reunion.
First, 2004, Iedul Adha day, Surabaya.
Second, 2005, early of July, Jakarta.
Third, 2006, end of July, Singapore? Hopefully (1024x) :D

Although we have been distances away (Jakarta, Singapore, Egypt) with different hectic schedules, there is always time gathering us. Last year, jokingly we said, "where's next ? 2006 reunion in Singapore?"
Then, we laughed. Never thought it would come true. As always, unexpected!

Yeah, I will be hosting again!
Tomorrow morning, will be fetching my first guest from Egypt from the airport.
Second guest from Jakarta, the next day.

Wednesday, July 12, 2006

Melihat Potensi

Pada sebuah malam hari saya terlibat percakapan dengan seorang teman yang sebentar lagi akan menikah. Diawali dengan cerita - ceritanya tentang kesibukannya dalam mempersiapkan pernikahannya itu. Ternyata ribet juga.

Lalu, sampailah kami pada sebuah topik yang sepertinya saya awali dengan pertanyaan "apa sih yang kamu lihat dari calon suamimu dulu sebelum memutuskan untuk menerimanya?"

Jawabnya, "Aku ngelihat potensinya."
"Potensi yang bagaimana?"

"Lho, kamu gimana sih, dil? Bukannya dulu aku curhat2 sama kamu, trus malah kamu yg nasihatin aku supaya ngelihat dari potensinya."
"oo... iya ya ?"

Aku berusaha mengingat - ingat kapan dia pernah curhat padaku tentang itu. Tapi yang aku ingat, aku memang pernah bilang pada seseorang tentang 'melihat dari potensi'. Oooh.. ternyata pada temenku yang satu ini. hihihi... *maapkeun beribu maap, pits... terlalu banyak loading akhir2 ini, jadi kelupaan semua deh :D*
Setelah kuingat2 lagi mungkin kejadiannya sekitar 3-4 tahun yang lalu, waktu sekitar kuliah tahun ke-2 ato ke-3, kali ya.. Lha, kok aku yang dulu lebih wise, yah ? huehehe...

Lalu temenku meneruskan lagi,
"Potensi itu seperti gini nih contohnya: agensi2 (artis/model) itu kalo memilih orang kan berdasarkan potensinya. Bukan ngelihat seseorang itu cantik ato enggak, tapi melihat potensi orang itu untuk menjadi cantik. Ya.. perlu dipermak dikit udah jadi cantik."
"ooo.. begitu, ya.." *sambil manggut2 tanda setuju*

Wah, benar juga, dirimu jadi mengingatkanku kembali, pits!
Sebenarnya nasihat 'melihat dari potensi' ini awalnya aku dapat dari seorang mbak kos yang sekarang bekerja di Washington DC sono. Waktu itu beliau sedang menasihati diriku tentang tips - tips mencari cowok. *wahaha... kenapa topik ini selalu dalam konteks perjodohan, ya?*
Mbak itu bilang, "Liatlah seseorang dari potensinya. Mungkin sekarang kamu ngelihat cowok - cowok itu pada saat masih jadi mahasiswa, belum jadi orang sukses; tapi lihatlah potensinya untuk menjadi sukses di kemudian hari."
Wah, mbak yang satu ini memang TOP buanget.

Hal ini jadi mengingatkan dan menyadarkanku lagi tentang hal penting dalam hidup, 'melihat dari potensi'. Sebenarnya hal ini bukan hanya terpakai dalam konteks perjodohan, tapi dalam banyak hal. Bisa saja dipakai untuk melihat apakah sesuatu yang kecil itu merupakan potensi permasalahan besar di kemudian hari, apakah sebuah ide sederhana itu merupakan potensi sebuah bisnis besar di masa depan, dan lain sebagainya. Mungkin apa yang kita lihat sekarang bukan merupakan sesuatu yang besar, tapi bisa jadi ia menyimpan sebuah potensi untuk menjadi besar di masa yang akan datang.
Yak, di situ lah tantangannya: bagaimana menjadi jeli dalam melihat prospek masa depan akan segala hal.

Tuesday, July 04, 2006

I am nobody,
and I have nothing;
why should I be afraid of losing something?

Sunday, July 02, 2006

Khayalan masa SD

Ketika masih SD dulu, sekitar tahun 90-an, saya sering berkhayal tentang sekolah masa depan, sekolah yang fasilitasnya lengkap dan canggih, yang gedungnya bagus dan indah.
Ini adalah khayalan favorit saya di masa kecil dulu, bersama seorang sahabat saya waktu SD.
Kami dahulu adalah teman karib yang sangat cocok, kemana - mana selalu bersama, dan kami juga punya impian - impian yang sama tentang sekolah masa depan.

Entah kenapa saya sering mengkhayalkan tentang sekolah masa depan. Mungkin karena sekolah saya jauh dari bayangan seperti itu. SD saya adalah sebuah SD negeri terpencil, di daerah pinggiran kota Surabaya. Gedungnya kecil, cuma punya 6 ruang kelas, yang dibagi menjadi 2 tingkat. Letaknya di tengah rawa - rawa yang banyak nyamuknya. Kalau musim hujan lapangannya banjir dan becek; dan kalau musim panas rawa - rawa di sekitarnya pun mengering sehingga murid - murid mendapat extra halaman bermain. Tapi juga sering musim ulat bulu jatuh dari pohon :D

SD masa depan ?
Yap, saya selalu membayangkan membangun sekolah yang fasilitasnya canggih, ruang kelasnya dilengkapi dengan perangkat komputer satu untuk setiap murid di mejanya masing2. Kelasnya ber-AC dan papan tulisnya adalah white-board. Lalu murid - murid tidak perlu membawa buku karena mencatatnya langsung di komputer. Sekolah itu juga dilengkapi dengan asrama yang bagus dan canggih. Perpustakaannya lengkap, kantinnya keren. Fasilitas olah raga dan bermain nya lengkap. Ada lapangan olah raga untuk bulu tangkis, basket, volley, sepak bola dan kolam renang. Oh iya, muridnya juga tidak perlu berseragam dan tidak dipungut biaya pendidikan. Bebas bersekolah gratis!
Sambil berkhayal, saya juga sering menunjuk - nunjuk tempat2 di lingkungan sekolah yang akan diubah untuk dijadikan seperti khayalan saya itu. Hahaha.. ada2 saja!

Sekarang sudah banyak sekolah - sekolah seperti yang saya bayangkan itu. Sekolah - sekolah mahal berasrama, seperti Pelita Harapan, Ciputra, dll. Sekolah berfasilitas canggih seperti itu bukan khayalan lagi. Tapi gratisnya itu yang masih khayalan. hahaha....

SD ku itu memang SD pinggiran dan minim fasilitas. Dibandingkan SD ku ketika di Sorong, Irian Jaya saja, SD ku yg itu masih kalah jauh. Jelas kalah bagus dibandingkan SD2 negeri terkenal di tengah kota yang sudah punya marching-band dan fasilitas bagus pada jaman itu. Perpustakaannya saja bukunya minim, apalagi punya marching band. Tapi yang hebat adalah gurunya. Ada seorang guru hebat yang memotori kebangkitan sekolah itu, guru kelas 6. Beliau sangat idealis dan aktif memacu muridnya untuk berprestasi dalam bidang apa saja, baik bidang pelajaran maupun ekstrakurikuler. Dari sebuah sekolah yang cuman dipandang sebelah mata, menjadi sekolah yang sering berprestasi. Pada jaman akhir studi saya di sana dulu, sekolah itu pernah menghantarkan muridnya mencapai juara umum lomba perkemahan Pramuka sekecamatan (sayang nggak sampe sempat dikirim ke Jambore :((, saking terpencilnya kali ya) dan danem yang bisa menghantarkan masuk ke SMP negeri terfavorit di kota Surabaya, tertinggi urutan ke-5 (yang nomer 1 dari Ujungpandang danem 49 (/50) ck ck ck...).

Apa kabar ya SD ku sekarang? Sudah lama tak kukunjungi, padahal letaknya sangat dekat dari rumah; jalan kaki 15 menitan juga udah nyampe. Dasar murid tidak berbakti pada almamater. Hehehe...
Anyway... semoga sekolahku sekarang udah bagus dan makin berprestasi, merdeka!

Saturday, July 01, 2006

Sebab Akibat

Apakah segala hal itu selalu terhubung oleh "sebab - akibat" ?

Saya juga masih nggak ngerti. Tapi sepertinya iya.

Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi pun dengan skenario 'sebab - akibat'.
Sebab mereka memakan buah terlarang, akibatnya mereka diturunkan ke Bumi.
Keduanya tidak langsung ujug - ujug ada di muka Bumi. Sim salabim!

Ada seorang anak yang sangat nakal.
Saya berpikir bahwa mungkin saja memang anak itu membawa sifat kenakalan dari sononya.
Tapi setelah diusut, ternyata ada pengaruh didikan pada masa kecilnya.
Hm... sebab - akibat...

Juga masih banyak lagi fenomena tentang sebab - akibat.

Menariknya, kadang hubungan sebab - akibat itu terjadi dalam urutan yang terbalik.
Akibat dulu, baru sebab.

Pernah, saya hanya bermaksud mengambil sesuatu satu saja.
Tapi entah kenapa, tanpa sadar saya mengambil 2. Kemudian, salah satunya jatuh dan tak bisa dipakai.
Tapi untunglah masih ada satunya lagi.
Sebab salah satu nya akan jatuh, akibatnya saya mengambil dua.
Akibat, baru sebab.

Ada lagi.
Seseorang anak memperoleh beasiswa.
Tahun berikutnya, beban keluarganya menjadi berat karena adiknya membutuhkan biaya besar untuk masuk sekolah dan juga beban berat lain. Tanpa beasiswa untuk salah satu anaknya, mungkin keluarga itu akan mengalami kesulitan besar.
Lagi2: Sebab keluarga itu akan mendapat beban biaya berat, akibatnya salah satu anaknya mendapat beasiswa.

Apa ya begitu hubungannya ?
Selalu dalam hubungan Sebab - Akibat ?
Saya sebenarnya tak ingin setuju, tapi hasil - hasil pengamatan sejauh ini menyatakan demikian.
Hmm.. mungkin saja karena studi kasusnya yang kurang luas.

Mungkin memang semua terhubung oleh hubungan 'Sebab dan Akibat', kecuali sang Causa Prima.