Sunday, August 11, 2019

Hari Raya Idul Adha 1440 H

Malam ini, 6 th lalu, adalah malam yg sangat berkesan bagi saya. 9 Dzulhijah malam, kami menjalani malam sampai terbit fajar di Musdalifah, setelah siangnya kami wukuf di Padang Arafah. Musdalifah ini jg sebuah padang gurun pasir berbukit-bukit, seperti halnya Arafah. Sebagai salah satu rangkaian ibadah haji, kami harus bermalam di sana. Kami tiba di sana sudah gelap. Saya tak membayangkan sebelumnya bahwa malam ini akan begitu berat. Pertama, di sana kami bermalam beratapkan langit, beralaskan tanah (bolehlah memakai tikar). Ya, itu berlaku untuk semua orang, tidak terkecuali. Kedua, waktu kami tiba, semua tempat sudah dipenuhi orang. Benar-benar penuh dan padatnya masyaAllah. Sebuah padang yg begitu luasnya, bisa padat oleh manusia yg bergelimpangan, ataupun duduk, untuk beristirahat. Saya dan suami bersama sepasang pasutri terlepas dari rombongan. Ya, untungnya kami memang sudah biasa beraktivitas dlm rombongan kecil, jadi kami tidak panik. Kami berempat sepakat untuk selalu bersama di Musdalifah. Malam itu, demi mendapatkan sepetak tempat utk duduk saja susahnya minta ampun. Semua sudah tampak penuh, bahkan daerah lereng perbukitannya pun ditempati orang. Kok ya nggak ngglundung. Kadang kami dapat tempat utk duduk sejenak, tapi ternyata kami harus pindah karena ternyata orang memerlukan tempat itu sbg jalan berlalu lalang. Setelah lama berjalan utk mencari tempat istirahat, itupun dengan harus berhati2 agar tidak menginjak kepala orang, dan anggota2 badan lainnya tentunya, kami akhirnya menemukan tempat kosong. Rupanya ada rombongan yg baru saja meninggalkan tempat itu begitu saja, kamipun ditinggali tikar dan kerdus agak tebal. Alhamdulillah. Kami baru tersadar bahwa lokasi kami sudah termasuk di lereng bukit, agak tinggi. Pantas saja relatif lebih sepi drpd di bawah. Jangan ditanya jarak kami ke toilet, jauh sekali. Kalo pergi ke toilet entahlah kami dpt kembali ke tempat itu lg atau tersesat. Untungnya malam itu saya tdk perlu ke toilet. Klo iya, bisa berabe. Mana antri toiletnya bisa minim 30 menitan konon.

Dengan berbekal botol spray, kami berwudlu, lalu sholat. Setelah itu saya kelaparan. Untung masih ada bekal makanan di tas. Tantangan berikutnya adalah tidur. Saya yg dasarnya sulit tidur, di tempat yang seperti itu, lebih parah lagi. Tidur di tanah berbatu, ramai orang berlalu lalang hampir melangkahi kami, berdebu, mana bisa saya tidur? Saya lihat, kawan saya bisa tidur nyenyak. Iya, dia dokter, sepertinya dokter punya skill khusus utk bisa tidur di mana saja. Hebat. Suami saya jg tampak tidur, tapi tyt enggak jg katanya. Menjalani malam itu, waktu seakan lambat berjalan, rasanya fajar lama menjelang. 

Kalau ditanya, bagian mana yg paling berkesan buat saya dr rangkaian ibadah haji. Jawabnya: mabid di Musdalifah. Malam yg penuh hikmah. Malam yg rasanya merontokkan segala aspek keduniawian. Di sana tak ada bedanya, kaya miskin, semua duduk di tempat yg sama, beralaskan tanah, beratapkan langit. Juga, semua orang harus berjuang mendapatkan sepetak tempat untuk bisa duduk ataupun beristirahat. Ah ya, mungkin tdk semua merasakan hal ini krn saya sempat melihat ada rombongan yg memiliki tim yg mereserve kapling tempat di daerah yg cukup strategis, di dataran rendah, dekat toilet. Sepertinya sih rombongan dari Indonesia atau Malaysia. Juga, ada yg mengambil kemudahan (rukhshoh) utk tidak menghabiskan malam di sana sampai fajar. Lepas tengah malam mereka sudah beranjak menuju Mina, terutama utk org yg sudah lanjut usia. Kebetulan kami memilih utk stay sampai fajar. Semuanya sah2 saja, sesuai apa yg terbaik bagi masing2 saja.

Hikmah kedua dr Musdalifah adalah saya jadi membayangkan beginilah situasi hari kebangkitan menunggu pengadilan ketika kiamat kelak. Terbayang rasanya padat, penuh sesak, letih, mau cari tempat duduk aja sulit, dan penantian yg panjang rasanya. Masih untung di Musdalifah, kami akhirnya bs duduk, dan fajar yg dinanti jelas kapan datangnya. Pada hari kiamat kelak? Entah.

Alam bawah sadar ttg situasi Musdalifah ini kadang masih sesekali muncul terbawa mimpi. Dalam mimpi tampak kondisi manusia yg bergelimpangan dan saya yg berusaha mencari tempat di antaranya. Ketika bangun, rasanya depresi. Kadang saya terpikir, apa begini jg rasanya cari tempat pemakaman utk diri ini kelak. 

Kok bukan wukuf di Padang Arafah sbg pengalaman yg berkesan? Klo bagi saya Wukuf itu suasananya romantis, apalagi ketika menjelang fajar terbenam. Saat itu adalah saat yg paling sendu, melankolis. Semua orang keluar dari tenda, menatap keindahan matahari yg terbenam, seraya memanjatkan segala doa. Romantis sekali. Mudah dilalui. Yg berkesan bagi saya adalah bagian yg paling sulit. :D

Bagaimanapun saya bersyukur bisa survive malam itu. Paginya, kami berhembus kembali ke perkemahan di Mina. Jadwal hari itu adalah melempar jumroh hari pertama dan ke Makkah utk tawaf dan sa'i. Jadwal yg cukup padat dan melelahkan. Kondisi saya rasanya drop, lelah fisik karena perjalanan kaki yg panjaaaang, lelah hati karena seringnya ada antrian yg panjang, kurang tidur, plus berbagai virus dan bakteri padang pasir yg cukup ganas siap menyambut. Dan rasanya, tidak ada dr rombongan kami yg sehat penuh setelah melalui malam itu. Memang sepertinya ibadah haji itu sangat memerlukan kondisi fisik yang prima dan stok kesabaran yang besar. 'Ala kulli hal, alhamdulillah.

Pagi ini 10 Dzulhijah 1440 H. Saya ingin mengucapkan Selamat Idul Adha, Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita. Aamiin.

0 Comments:

Post a Comment

« Home