Friday, December 17, 2004

Mungkin seseorang harus jatuh dahulu agar mengerti bagaimana berhati-hati ?

Saya pernah berpendapat semacam ini:
"Buat apa sih kita sibuk2 berteori tentang hidup. Jalani aja hidup apa adanya. Nggak usahlah perduli teori2. Toh kalo memang kita harus berjalan, salah dan jatuh, kita akan mendapat pelajaran kita sendiri."

Intinya, belajar dari kesalahan dan kejatuhan. Belajar dari pengalaman.

What do you think?

Menurut saya, ada 2 cara dalam menjalani hidup. Pertama, hidup yang berdasarkan pada teori2, dan yang kedua, hidup yang dijalani saja tanpa perduli pada teori2. Kebanyakan sih, menggabungkan kedua cara itu. Ya iyalah, sekalipun nggak mau perduli aturan ataupun pengalaman orang, setidaknya orang masih mau belajar dari pengalamannya sendiri. Masak mau jatuh oleh batu yang sama ? Meskipun itu sangat mungkin.

Masalahnya, hidup itu bukan seperti bermain game, yang kalo gagal/mati bisa balik lagi. Selain itu, ada batasan waktu dalam hidup ini.

Is our time up ?

Teori berguna untuk membuat hidup kita mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Apalagi jika yang diaplikasikan adalah teori2 dari Allah SWT, dijamin bahagia dunia akhirat, deh.

"It's like holding a map in your hands. You'll know the best routes
to go, the routes to avoid, leading towards your Destination effectively and efficiently."

Bagimana sih perbandingan orang yang menjalani hidup berdasarkan teori2 dan yang belajar dari pengalaman (kalimat diplomatis untuk mengganti istilah 'nggak mau perduli teori2 yang udah ada') ?

'Ada untungnya gak sih jadi orang yang belajar dari pengalaman ?'

Orang yang beranggapan seperti pendapat saya yang di paling atas, ada sisi positifnya. Belajar sendiri dari kesalahan dan kejatuhan bisa menyebabkan seseorang jadi lebih menghargai kehati-hatian karena orang tersebut telah merasakan betapa sakitnya jatuh, betapa lamanya sembuhnya luka, dll dll. Ibaratnya orang nyetir mobil, kalo belum pernah tabrakan, pasti tingkat kewaspadaannya berbeda dengan yang sudah pernah tabrakan (dan selamat). *kalo gak selamat mah, beda critanya. hehe..*

Juga, sekalinya seseorang mendapat pelajaran dari pengalaman sendiri, pelajaran itu akan lebih kuat tertanam dalam dirinya dibandingkan yang hanya mengetahui pelajaran itu dari sekedar teori. Bagi pengendara mobil yang sudah pernah mengalami kecelakaan, sikap berhati-hati lebih tertanam dari pada yang belom pernah kecelakaan. Secara umum memang pengendara mengetahui bahwa berhati-hati itu perlu, tapi sejauh apa ? Berhati-hati yang bagaimana ? Gini ini sudah cukup berhati-hati belum? Belum tentu semua pengendara mengetahuinya.

Benar juga kata pepatah bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.

So, kalo memang pengalaman adalah guru yang paling baik, dan bisa membuat orang menjadi lebih mantap tentang sebuah pelajaran kehidupan, kenapa enggak kita belajar aja dari pengalaman? Buat apa teori2?

Bentar! Ada sisi negatifnya juga cara belajar seperti itu.
Yaitu, belajar dari pengalaman membutuhkan waktu dan pengorbanan. Seperti contoh berjalan tanpa peta, yang tersesat-sesat dan lama nyampe ke tujuan. Mending kalo bisa nyampe ke tujuan yang diharapkan, kalo ternyata jatah waktunya habis ?

Apakah untuk sekedar mengetahui bahwa mengendarai mobil itu harus berhati2, dibutuhkan waktu yang lama dan pengorbanan dengan mengalami kecelakaan!
Kan sudah ada yang teorinya bahwa: kalo nyetir mesti hati2, jangan ngelamun, jangan kebut2an, harus waspada, taati peraturan lalu lintas, dll. Kalo kita nggak mau perduli teori2 itu, i.e. kebut2an, nggak waspada, dll akhirnya tabrakan. Memang pada akhirnya jadi tahu bahwa memang teori2 itu benar, tapi udah terlanjur celaka. Iya kalo selamat, kalo nggak ?

Mungkin untuk hal2 yang jauh dari nyawa, orang cenderung bakal menganggap enteng sebuah teori dan tetap melakukan sesuatu meskipun sudah mengetahui akibatnya.
Bagaimana kalo teorinya ekstrim: 'ditabrak kereta api itu bikin mati'. Masih ada yang mau mencoba membuktikan kebenarannya?

Belajar dari pengalaman sendiri, itu bagus; tapi tidak semuanya harus dibuktikan sendiri. Kita bisa juga belajar dari pengalaman orang. Kenyataan bahwa ada orang yang ditabrak kereta dan mati cukuplah untuk menjadi pelajaran buat kita, bukannya lalu ngotot mau belajar dari pengalaman sendiri untuk membuktikan kebenarannya.

Jadi gimana? Jawabannya ada pada diri masing2. Tergantung jalan hidup seperti apa yang kita mau...

Ada yang bilang, "Jagalah hati. Janganlah bermain-main dengan hatimu."
Hmm.. atau mungkin memang seseorang harus jatuh terlebih dahulu agar mengerti bagaimana berhati-hati?

7 Comments:

Blogger imponk said...

jagalah hati agar tetap hati-hati!

membaca postingan ini seperti belajar teori hidup maupun praktek. lengkap deh!

10:36 PM  
Anonymous Anonymous said...

hmm.. not that it means anything, but it seems that there are a lot of references to the word "fall" or "jatuh" (around 27 in this page) and "hati" (31 in this page) lately..
-nobadih-

8:14 PM  
Blogger dils said...

imponk:
sudah blajar anak2 ???
yak, besok ulangan! *hehehe*

-nobadih-:
oh, don't worry...
a lot more are coming.... ;)

7:27 AM  
Blogger uni said...

jatuh itu fitrah. boleh jatuh.. asalkan setelah itu ada keinginan untuk bangkit dan berdiri serta berlari kembali...

bersyukur malah.. jika pernah jatuh (dan tersadarkan kembali, kalau jatuh tapi ga sadar2 jadi lain cerita.. ibarat kecelakaan mobil itu ya? keren deh analogynya)..

tapi memang, tidak harus jatuh dulu untuk merasakan sakitnya luka... Tapi sungguh!!!, berbeda sekali appresiasinya jika benar2 pernah jatuh di masa lampau... apalagi jika tingkat pemahaman yang meningkat itu juga dibarengi keinginan untuk mencegah orang2 sekitar yang terlihat *ingin* jatuh atau mendekati area2 *rawan* jatuh...

Berteriak!!! menghulurkan tangan!!! menariknya(mereka?) dengan keras, atau kalau perlu menamparnya?. Semua nya membahasakan satu makna... berbunyi --> **Jangan.. jangan ke sana, tolonglah jangan ke sana.. jangan dekati area itu... jatuh nanti... efeknya sakit sekali.. sungguh sakit... percayalah..**

tapi biasanya tak banyak yang percaya...
Ya Muqallobal Quluub tsabit qalbi 'alaa diinik...

3:16 PM  
Blogger eka said...

Kalau baca judul topiknya Dilla kali ini, mengenai istilah teori dan pengalaman, pasti erat kaitannya dengan pelajaran hidup, artinya hidup adalah sekolah yang sebenarnya.

Kalau dapat nilai jelek disekolah, pasti dong kita berusaha memperbaiki dengan belajar lebih keras, kalau berkali2 mencoba, masih jelek nilainya, mungkin udah takdir kali ya :) Tapi ada juga orang yang berkali-kali jatuh, tetap belum mampu mengambil pelajaran dan hikmahnya tetap aja nggak mau belajar lebih keras. Tapi ada juga yang hoby-nya belajar terus, dan selalu dapat nilai bagus. Ini jenis orang yg lebih percaya teori, dan nggak perlu jatuh dulu baru mulai belajar lebih keras.

Satu lagi, mungkin nggak harus belajar dari kegagalan sendiri, tapi bisa juga belajar dari kegagalan orang lain.

Salam

1:49 AM  
Blogger rieska oktavia said...

Pa kabar non? Kangen juga ga komen2 hehe
**komen ko kangen :D**

Kayaknya sih ya klo menurut saya anyhow, yang namanya ilmu itu sangat penting untuk diketahui kalo kita pengen ngejalananin sesuatu dengan lebih baik dan bener. Ilmu itu sendiri bisa teori yang teori, kesimpulan dr pengalaman orang lain, dsb.

Tapi, walo bagaimana, yang namanyanya praktek alias pengalaman sendiri emang sangat dijamin lebih nerap. Kenapa? Karena saat kita 'ngerasain' pengalaman itu, seluruh indera kita terlibat nyata. Beda dengan tahu dari baca atau denger kan cuman dua indera doang yang kepake. Klo lebih banyak bagian tubuh yang terlibat, diri kita akan lebih percaya. haqqul yaqin istilahnya.

Kadang-kadang untuk beberapa hal penting, saya suka pengen bisa ngerasain itu supaya bisa lebih percaya. Alias lebih beriman.

Misalnya, percaya ga, kalo uang yang kita infaqin itu akan berbuat tujuh, spuluh, sampe terus berlipat2?

Masalahnya untuk ngejalanin hidup emang rada beda. Karena waktu yang ada adalah hidup kita sendiri.

Tepat banget yaa...doa yang sering diulang2 setiap sholat itu adalah 'tunjukilah kami jalan yang lurus'...
Jalan yang lurus itu emang ada dan cuman satu, yang kita ga tau persis banget jalan yang mana. Tapi kita sangat perlu itu kalo ga pengen nyasar dan waktu kita kemudian abis percuma...

Teori/ilmu apa yang harus kita tau banget? Tentu aja ilmu dari al Quran. Source asli, paduan dari yang ngebikin kita. Gimana cara ngertiinnya? Butuh bahasa Arab kalo pengen makin mantep. Karena kalo engga, ya bakalah terus tergantung sama penerjemah.

Abis itu, turunan2nya...

Ilmu dari al Quran itu yang kemudian kita praktekin, dan kemudian kita rasain kejutan2 pengalamannya di kehidupan kita sendiri. Insya Allah bakal makin bermakna hidup kita ini. Iterasinya juga bakalan lebih berkembang, ga cuman trial n error yang kemudian ga jelas kemana.
(Doooh...ini juga nasihat buat saya sendiri yang masih suka ajaib bangetttt)

Maaf banget kalo jaka sembung alias ga nyambung. Entah kenapa ko malah ini yang pengen ditulis.

Smoga kapan2 bisa nulis ttg ini di blog saya.

Have a nice day...

12:15 PM  
Blogger dils said...

uni, eka, rieska:
Trimakasih atas komen2nya yang sangat enriching.

Belajar darimanapun, itu baik. Asalkan yang dipelajari yang baik2, terutama ilmu Agama.
Pernah baca sebuah pepatah:
Everywhere is my classroom, everybody is my teacher.

2:43 AM  

Post a Comment

« Home