Friday, October 15, 2004

Renungan Ramadhan: Puasa Ramadhan - sebuah studi analogi

Dalam tulisan berikut ini akan dibahas bulan Ramadhan dengan metoda analogi dalam konteks terminologi IT (Teknologi Informasi).

Komputer terbagi atas 2 bagian besar, yaitu hardware dan software. Hardware atau perangkat keras contohnya: mother board, CPU, video card, dll. Sedangkan software atau perangkat lunak, contohnya: operating sistem - DOS, Windows, UNIX, Linux, program2 aplikasi - MS Word, MS Excel, dll.

Manusia dalam hal ini dapat juga dianalogikan dengan komputer. Manusia terbagi atas 2 bagian besar: jasmani dan rohani. Jasmani adalah fisik manusia, jelas terlihat dan berwujud, contohnya: tangan, kaki, jantung, lambung, dll. Sedangkan rohani adalah bagian spiritual manusia, tak berwujud, contohnya adalah: akal, ruh, hati nurani, dll.

"Nah lho, trus apa hubungannya sama bulan Ramadhan ?"

Begini... bulan Ramadhan, dalam terminologi komputer2an tadi, saya analogikan sebagai bulan diskon besar2an obral hardware dan software yang bisa menjadi kesempatan bagi setiap komputer untuk diupgrade dengan harga murah, dan bahkan gratis. Dalam terminologi manusianya, Bulan Ramadhan juga merupakan bulan "obral besar2an" bagi umat Islam, yang merupakan kesempatan untuk berlomba2 meng-upgrade jasmani dan rohaninya dengan harga yang "murah".

"Kalo 'murah' dalam terminologi obralan h/w s/w sih udah jelas, berarti harga2 yang miring. Trus, maksud istilah 'murah' dalam terminologi manusia gimana ?"

Arti "murah" selama Bulan Ramadhan ini artinya adalah bahwa terdapat suatu mekanisme yang "dipermudah" untuk meng-upgrade jasmani dan rohani selama bulan Ramadhan ini.

"Kok bisa bilang dipermudah, sih ? Bukannya nggak makan dan minum sebulan itu berat ya?"

Lho, hardware komputer itu kan kalo mo upgrade juga mesti ada sesuatu barang tambahan yang dibeli. Contoh: kalo mau meng-upgrade kecepatan processor, kan artinya mesti beli processor baru; mau nambah kapasitas memory, perlu juga beli RAM tambahan. Artinya, everything always comes at cost. Ya, namanya juga hardware, kan perlu ongkos buat materialnya, jadi nggak bisa gratis.
Hanya saja, dalam bulan diskon ini, harga hardware lebih murah.

Demikian pula untuk meng-upgrade jasmani, nggak bisa gratis tanpa cost; tau2 pengen bisa sehat lambungnya, bisa lebih sehat badannya, dll. Meng-upgrade jasmani juga butuh cost! Kalo mau gratisan, emang mau cangkok organ??? hehe...
Nah hanya saja, kalo bulan Ramadhan terdapat kemudahan2 dalam melaksanakan up-grade jasmani ini.
Oh iya, dalam dunia kesehatan sudah terbukti bahwa puasa memiliki manfaat2 bagi jasmani, contoh: menyembuhkan penyakit maag, detoksifikasi, mengurangi lemak, dll.

"Lalu, dimanakah letak kemudahannya ?"

Kemudahannya adalah dalam pelaksanaannya yang secara berjamaah/bersama-sama.
Iya, coba bandingkan dengan puasa2 sunnah diluar bulan Ramadhan, contoh senin kamis. Puasa sunnah kan biasanya dilakukan secara sendiri2, dan kendalanya: males! soalnya nggak ada temennya. Selain itu, godaannya juga lebih besar, karena lingkungan pada banyak yang nggak sedang puasa. Di mana2 ngeliat orang makan, huhuhu.... godaannya lebih besar, kan...
Sedangkan Puasa Ramadhan ? Semua pada puasa, faktor drive-nya lebih kuat karena banyak temannya. Justru kalo nggak ikutan malah merasa bersalah. Bahkan stasiun2 tivi pun turut mendukung dengan memperbanyak tayangan2 rohani. Faktor drive dari lingkungan itulah yang mempermudah pelaksanaan puasa Ramadhan ini.

"Tadi tentang upgrade hardware, bagaimana halnya dengan software ?"

Beda halnya dengan hardware, software lebih murah lagi harganya, bahkan ada yang digratiskan, semacam freeware gitu lah... hehe.. Soalnya software kan tidak perlu material. Hanya berupa code, jadi memungkinkan untuk digratiskan.

"Trus, gimana dengan 'software' pada manusia?"

Di bulan Ramadhan ini, manusia juga diberi kemudahan untuk meng-upgrade 'software' nya. Melatih hati menahan hawa nafsu adalah termasuk contoh proses peng-upgrade-an yang dimudahkan (atau 'dimurahkan'). Ditunjang oleh faktor lingkungan yang semuanya pada menahan hawa nafsu, secara tidak langsung kita pun termotivasi untuk menahan hawa nafsu. "Dimurahkan" karena bukan barang gratisan juga, harus ada faktor usahanya alias 'cost'nya.
Ada juga yang digratiskan, yaitu 'komoditi' yang asalnya dari Allah. Kalo software2 yang asalnya dari Allah, biasanya sih digratiskan. Pada bulan Ramadhan ini pintu ampunan dibuka lebar2, pahala ibadah pun dilipatgandakan, dll.

"Jadi gimana mestinya kita menyikapi bulan Ramadhan ini ?"

Ya, sudah jelas! Jangan lewatkan kesempatan emas ini! Bulan Ramadhan cuman ada setahun sekali. Jadikan bulan Ramadhan sebagai ajang untuk meng-upgrade secara komplit jasmani dan rohani kita.

Kalo tujuannya cuman meng-upgrade jasmani (contoh: puasa cuman gara2 pengen kurus), ya... percuma aja.
Ibaratnya, komputer yang cuman processornya doang yang diupgrade, tapi operating sistem nya tetep DOS, tetep aja nggak mencapai sasaran untuk memperbaiki mutu komputer secara keseluruhan. Nggak ngefek gituh.. Malah bisa2 komputernya crash. Kalo software doang yang diupgrade, sama juga ceritanya. Nggak ngaruh. Masak mo pake operating sistem Windows XP pake processor 386 ? Nggak bisa atuh...
Juga bagi manusia, untuk meng-upgrade rohani perlu pengkondisian secara jasmani juga. Dalam kondisi lapar dan haus, manusia *diharapkan* jadi lebih dekat dengan Tuhannya, dalam ketidakberdayaan dan kelemahan. Sebuah pengkondisian yang sempurna secara lahir dan batin.

Jadi, Puasa Ramadhan merupakan sebuah mekanisme peng-upgrade-an jasmani dan rohani manusia yang sangat lengkap dan intensif, jika dijalani dengan sebenar-benarnya. Juga sebagai semacam intensive-refresher-training yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun, yang tujuannya adalah untuk mengembalikan lagi kondisi manusia kepada fitrahnya. Tanpa mekanisme 'pemfitrahan kembali' ini, bukan mustahil yang pada mulanya tersesat sedikit, semakin lama akan semakin jauh tersesat dari fitrahnya. Semacam mekanisme kontrol/koreksi begitu, lho... Jika terjadi deviasi, maka diharapkan pada bulan Ramadhan ini terjadi efek pengkoreksiannya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan pengoreksian diri dan semoga berhasil membawa kita kembali selalu ingat pada fitrah kita, kembali suci....

Subhanallah, sesungguhnya Allah menciptakan alam ini dengan mekanisme yang mahasempurna....

9 Comments:

Blogger Eddy Fahmi said...

dil, nyari agama GPL aja dil.
semuanya freeware, source codenya didistribusikan bebas n bisa upgrade setiap saat.
setiap orang bisa update sendiri sesuai kreativitasnya.
hihihih... :D

3:21 AM  
Blogger dils said...

fahmi:
wekekeke...
Agama *yang bener* pasti nggak bisa freeware, soalnya dia pasti bisa MENJAMIN bahwa kalo dijalankan di platform apapun nggak menyebabkan crash.
Nah, JAMINAN kan selalu disertai:
1. constant-maintenance dari pembuat software
2. aturan2 main yang harus diikuti jika tidak ingin terjadi crash.

Kalo dibikin free bener2 free sapa yang bakal njamin dong kalo dilaksanakan bakal bikin crash. Kan bagaimanapun juga yang tau betul tentang software tsb ya pembuatnya. User, biasanya cuman dikasih info sedikit ttg s/w itu. Begitu...

7:13 AM  
Blogger M.A. Sanjaya said...

kalo hardisknya rusak gimana neh? gak bisa dipartisi, gak bisa diinstall apa2... mosok kudu tuku hardware anyar?

5:19 PM  
Blogger eka said...

Kalau udah terlalu banyak yg hrs di-'upgrade', pasti akan banyak keluar 'biaya' (butuh usaha/pengorbanan yg lebih besar). Ramadhan memang saat yg tepat utk 'beli spare part' atau 'update s/w' dgn 'hrg lbh murah'. alternatif lainnya, mumpung lagi bulan discount gimana kalo kita ganti aja dgn yg lbh 'canggih' (mengubah paradigma). Di pasaran udah banyak 'centrino WiFi', atau melirik perkembangan 'komputer dgn konsep nano technology'?
(sorry nih, banyak kata tersirat, hehe. Kata s/ filsuf: "lihatlah apa yg tidak terlihat oleh mata")

4:44 AM  
Blogger dils said...

masanjaya:
wah, kalo h/w rusak sak, gak bisa diperbaiki lagi, ya apa boleh buat, mesti beli baru. wekekke...
cangkok disket. Ato kalo nggak, ya...direlakan saja kepergiannya. huhuhu...

Mbak Eka:
Kadang perubahan paradigma itu kalo belom waktunya ya susah juga lho, Mbak. Kalo nggak dikehendaki dari Yang di Atas, nggak bisa juga. Buktinya ada yang sesat, udah dikasih tau sampe jungkir balik juga nggak berubah2. Udah parah banget rusaknya kali, ya. hehe...
Perubahan paradigma itu mungkin seperti hidayah, granted by Allah. Gak bisa juga dipaksakan keberadaannya. Mungkin ? hehe..
Iya nggak sih, Mbak ?

5:38 PM  
Blogger rieska oktavia said...

salam kenal yaa...
nice posting ^_^

menurut saya proses berubahan diri manusia itu adalah serupa reaksi kimia. ada faktor2 yang diperlukan untuk terjadinya suatu reaksi. hidayah Allah itu adalah faktor a mustnya, sebagai energi aktivasi. ramadhan itu serupa katalisator.
wallahu a'lam

tentang ganti hardware, boleh saja diminta. kita dianjurkan untuk meminta hati, sebagai inti hardware yang kita punya, yang baru bila memang dirasakan hati yang kita punya sudah terlalu sakit...

4:17 AM  
Blogger eka said...

Iya Dill, merubah paradigma itu nggak mudah, dan cuma terjadi pada orang2 yg dikehendaki Allah (disebutkan bbrp kali dlm alquran). Dulu aku mikir 'orang yg dikehendaki' itu seperti apa? kok kayaknya Tuhan pilih kasih/ KKN :)
Lamaa sekali aku bisa dpt jawabannya. Melalui usaha mencari tau dan juga dialog2 dgn diri sendiri akhirnya aku yakin, setiap ujian yg kita hadapi (baik susah atau senang), reaksi dan tindakan kita, baik atau buruk, adalah pilihan kita sendiri.
Kalau dalam memilih reaksi kita cenderung pada reaksi yg positif, konstruktif, dan tdk mementingkan diri sendiri, kmd kita berusaha belajar dari kegagalan dan berusaha tdk mengulanginya, itu akan jadi kredit point dimata Tuhan.
Selanjutnya baru Tuhan akan memberi hidayah atau petunjuk dan itu bisa datang lewat buku yg kita baca, diskusi dgn teman2, artikel2 di internet, sholat, perenungan, bahkan dari pengalaman kita sendiri atau pengalaman orang lain yg kita amati. Bahkan dari sesuatu yg tidak terduga, yg sering dibilang orang "ah, pasti kebetulan!". Kalau udah sampe pemahaman ini, saat kita melakukan kesalahan kecil aja rasanya udah takut sekali kehilangan hidayah. Takut Tuhan tdk lagi membuka pikiran dan hati kita, karena kesalahan atau dosa akan menutup hati sedikit-demi sedikit. Kalau hati udah tertutup apalagi yg sudah berkarat udah sulit membersihkannya, seperti yg Dilla bilang "udah dikasih tau sampe jungkir balik juga nggak berubah2". Intinya, harus sering introspeksi, kalau ternyata kita khilaf melakukan kesalahan, cepat2 minta maaf dan minta ampun sama Tuhan, biar kembali bersih lagi dan tdk mengulangi lagi kesalahan tsb. Jadi pas ramadhan bersih2 hati nya nggak terlalu susah, karna gak sampe berkarat kan.
ini sharing pemikiran dan pengalaman aja, pengetahuanku sangat terbatas, malah banyak dapat petunjuk juga lewat tulisan2 Dilla, thanks yaa.

8:25 AM  
Blogger dils said...

Mbak Rieska:
terima kasih... :)
hallo Mbak Rieska, salam kenal juga...
Mbak Rieska ini, yang kenal sama uNi bukan, ya? hehe..

Terimakasih atas komennya, Mbak.
Menarik, jadi memberi ide untuk menarik kesimpulan nih.
Bisa digabung sama komennya Mbak Eka.

Mbak Eka:
Wah, Mbak, makasih atas komennya yang sangat enlightening. Mbak Eka nih, wah wah... deep banget perenungannya :O.

Sepertinya kalo komennya Mbak Eka sama Mbak Rieska digabungin gini nih, jadinya:

Perubahan diri itu dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya:
1. Hidayah Allah
2. Usaha internal untuk mencapai perubahan diri
3. Faktor Lingkungan
4. faktor2 lain yang belom teridentifikasi (maklum ilmu manusia terbatas, jadi di reserve space dulu buat faktor yang lain2.).

Nah, elaborasi kedua faktor diatas:
Hidayah Allah itu faktor utama yang harus ada range kontribusinya dalam perubahan antara:
0% < Hidayah Allah <= 100% (tidak mungkin 0)

Usaha internal contohnya: berbuat baik, berusaha untuk menjaga hati agar selalu bersih, bereaksi positif, dll (pokoknya faktor dari dalam diri).
Faktor lingkungan contohnya: adanya bulan Ramadhan, dorongan orang2 sekitar, buku2, info2 dari luar, dll.
Kombinasi dari faktor usaha internal dan lingkungan ini range nya:
0 <= kombinasi dari kedua faktor < 100%
(tidak mungkin kontribusi totalnya bisa mencapai 100%, karena tergantung faktor hidayah)

Dan karakteristik lain dari faktor hidayah Allah ini juga adalah:
1. Powerfull. Meskipun tanpa 2 faktor lainnya, bisa mengakibatkan perubahan pada seseorang. Dalam kondisi ekstrimnya: bisa menyebabkan seseorang berubah dalam hitungan detik! dari yang bejat gak karuan, sampe jadi orang baik2 banget. Bukan hal yang mustahil bagi Allah.
2. Bisa mempengaruhi faktor2 lainnya.
Hidayah Allah bisa mempengaruhi perubahan faktor internal dan faktor lingkungan untuk menunjang perubahan seseorang tsb. Contoh: tau2 seorang penjahat kenal sama seorang ustadz yang bisa mengena di hati, dsb, dan akhirnya menumbuhkan faktor kesadaran diri untuk bertaubat, dsb dsb.

Dan kontribusi faktor2 itu lah yang akhirnya menentukan jalan seseorang untuk berubah. Tergantung prosentase kontribusi masing2 faktor.

Gitu gak, yah ? Wallahu a'lam...

Makasih banget juga, lho Mbak. Melalui Mbak juga saya jadi belajar banyak. Mbak kan banyak baca buku dan resources2 lainnya, sedangkan saya nih orang yang jarang banget baca buku (baca buku kalo 'terpaksa' (e.g: teks book subject) dan kalo lagi mood :D), hehe... jadi melalui Mbak, saya jadi ikutan baca buku dan resources2 juga.

3:16 PM  
Blogger eka said...

Kesimpulannya Dilla terstruktur juga ya, jadi lebih mudah ngertinya. Dari 3 faktor pertama (hidayah allah, usaha internal dan lingkungan) bahkan bisa jadi perenungan selanjutnya. (atau mau dijadikan topik baru, Dil ?)

misalnya dgn pertanyaan baru : apakah faktor lingkungan yg ekstrim sejak kecil bisa mendorong perubahan paradigma?

Contohnya anak2 jalanan yg sama sekali nggak punya faktor lingkungan yg mendukung (ekstrim). Berapa persen dari mereka yg berhasil merubah paradigma?

Kalau kita2 sih cukup beruntung dari kecil sudah bisa sekolah, punya ortu dan lingkungan yg bisa mengarahkan, punya akses informasi lengkap(buku, koran, internet dll). Kita punya banyak pilihan utk masa depan. Walaupun dari yg beruntungpun msh ada yg memilih jadi pecundang.

hehe tapi ini cuma pancingan, gak perlu ditanggapi langsung. Mungkin perlu merenung dulu. (kbtln ini jg msh jadi topik diskusi sama suami dirmh)

7:09 AM  

Post a Comment

« Home